Thursday, November 28, 2013

Terjebak Dalam Haramnya Berpacaran

Nurul (bukan nama asli, sebut saja begitu), dia seorang gadis yang dibesarkan di tengah keluarga yang beragama dan dia adalah sahabatku saat kami menduduki bangku SMA. Aku mengenalnya, ya Nurul hidup sebagai muslimah yang taat dan tidak pernah pernah pacaran. Kami berdua saling menyayangi karena Allah, saling mengingatkan di saat salah satu dari kami melakukan kesalahan.

Kami sudah lulus dari SMA, ini yang menyebabkan kami “lost contact” karena kita berdua harus terpisah jarak. Tujuan kuliah kami berbeda.

Beberapa bulan yang lalu, aku sempat mendengar kabar tentang Nurul bahwa ia sedang menjalani proses ta’aruf dengan ikhwan teman kampusnya. Mendengar kabar itu, aku pun ikut diliputi rasa haru dan senang. Ku ungkapkan rasa senang itu via inbok di FB dan selalu kuingatkan agar Nurul melakukan solat istikharah sebelum memberikan jawaban, sertakan Allah dalam pemilihan pendamping hidup, minta agar diberi petunjuk dan diberi kemudahan.

Nurul pun me-reply inbokku, mengucapkan rasa terima kasih dan memohon doanya dariku. Aku tersenyum, “aku tidak pernah melupakan tuk menyertakan namamu dalam tiap bait doaku, sahabatku” gumamku.

Lebih dari 3 minggu, aku disibukkan oleh aktifitas di kampus. Besoknya, aku mendengar kabar bahwa Nurul telah di khitbah oleh ikhwan yg sebelumnya mengajukan proposal ta’aruf. Dera rasa harus pun menyeruak di relung hatiku, entah kenapa aku ikut senang. Tapi, karena aku masih sibuk dgn segala aktifitasku, aku belum sempat log in FB dan mngucapkan rasa senang dan syukur atas apa yang telah dialami oleh Nurul.

2 minggu kemudian…

Masya Allah, aku baru ingat kalo belum mengucapkan apapun pada Nurul. Sepulang dari kampus, aku log in FB. Dan betapa terkejutnya, ketika beranda sudah muncul ditampilkan sebuah status dari Nurul yang berisi tentang rasa senang karena telah membuat kue dan kue itu dinikmati oleh si ikhwan.

Begitu aku buka profil nurul dan terbuka pulalah riwayat status-statusnya yang berisikan rasa senang dan tergambar aktifitas yang tak beda jauh dengan orang pacaran. Aku mencoba calm down, mencoba tuk tetap berfikir positif. “Mungkin mereka berdua sudah menikah, tapi secepat itukah?? 3 minggu menjalani proses ta’aruf, langsung khitbah dan melangsungkan proses akad nikah? Ahh…memang iya sih jarak antara khitbah dan walimah memang tdk boleh terlalu lama krn takut menimbulkan fitnah. Tapi kenapa aku tdk diberitahu kalo Nurul telah menikah? Apa dia marah padaku?”

Sejuta tanya menari-nari dalam alam pikiranku, hingga akhirnya aku mendapatkan jawabannya dari sebuah inbok yang tak lain dari teman SMA yag lain yang berisikan bahwa mereka berdua belum menikah dan masih berstatus khitbah? Proses Walimahnya masih menunggu sang ikhwan lulus dari kuliah, sedangkan tahun ini kami memasuki dunia perkuliahan. Berarti masih 3 tahun lagi?? Aku kecewa…sungguh kecewa krn Nurul telah terjebak dalam hubungan haram. PACARAN sebelum NIKAH. Ya Rabb…! Tolong sadarkan Nurul…

Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengetik inbok yang berisikan rasa kecewa, sedihku dan sikap ketegasanku sebagai saudaranya yang mengingatkan bahwa ia telah salah jalan. Tak lama, inbok dariku langsung terbalas. Hanya 2 kalimat yang dapat kubaca

“syukur Alhamdulillah..mohon doanya agar diberi kemudahan ya”

Derai air mataku tidak dapat terbendung lagi. Ampunkan segala dosanya dan sadarkan Nurul, Ya Allah Maha Pembolak-balik Hati

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alad dinika wa ‘ala tho’atika”.

“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu dan atas ketaatan kepada-Mu”.

Pesan Moral yang diambil dari Kisah Nyata ini adalah:

Indahnya saling mencintai dan menyayangi karena Allah, berkumpul dengan orang yang solih/solihah karena muslim/muslimah yang baik adalah yang saling MENGINGATKAN bukan MENJATUHKAN. Jadi, ketika saudara/saudari kita sedang melakukan perbuatan salah, kewajiban kita untuk mengingatkan dia

Cerita ini juga tidak ada maksud dari saya untuk menjelek-jelekkan seorang akhwat/ikhwan yg menjalani proses ta’aruf ataupun khitbah, tapi mereka tetaplah manusia yang bisa saja khilaf karena Sholeh/Sholehah itu bukan berarti orang yg tdk pernah berbuat salah (✿◠‿◠)

"Dan (yang termasuk org yg bertakwa adalah) orang yang apabila mengerjakan perbuatan salah atau menganiaya diri sendiri, mereka cepat-cepat ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka" ( Al - Imran ayat 135)

Meskipun mengakui sedang menjalani proses ta’aruf tapi adakalanya terjebak juga hubungan yg tak jauh dgn pacaran yang belum halal, seperi berkata mesra, berikhtilat (berdua-duaan) dan lain sebagainya, bgitu juga KHITBAH yg saya tuturkan lewat crita tadi. NO MESRA before akad…